Kamis, 11 November 2010

Ulasan Singkat tentang Madu

Madu merupakan cairan kental yang dihasilkan oleh madu genus Apis, yang berasal dari nektar bunga (Puspitasari 2007, h.1). Nektar adalah seyawa kompleks yang dihasilkan kelenjar necteriffier dalam bunga, bentuknya berupa cairan, berasa manis alami dengan aroma yang lembut. Nektar mengandung air, glukosa, fruktosa, sukrosa, protein, asam amino, karoten, vitamin dan mineral serta minyak esensial (Suranto 2007, h.26).
Rasa manis madu lebih manis dibandingkan dengan gula (sukrosa) karena adanya kandungan fruktosa (gula buah), glukosa dan sukrosa (Puspitasari 2007, h.1). Meski sama manisnya, perlakuan tubuh manusia terhadap madu yang manis itu berbeda dibandingkan dengan gula atau gula pasir. Madu dapat diproses langsung menjadi glukogen, sedangkan gula harus diproses terlebih dulu oleh enzim pencernaan di usus. Dengan demikian tubuh manusia bisa lebih cepat merasakan manfaat madu dibandingkan dengan gula pasir. Dari beberapa hal itu, rasanya bisa disimpulkan kalau madu bisa memberikan manfaat sangat penting dalam kehidupan manusia (kompas cyber media, 2008).
Madu merupakan salah satu produk lebah yang lebih dahulu dikenal dan paling banyak diteliti. Lebah akan menyimpan nektar di sarangnya dalam bentuk madu sebagai makanan mereka sendiri. Namun, para peternak lebah memanen madu yang berlebih lalu menjualnya. Madu memiliki efek antibakteri sehingga banyak dipakai untuk mengobati luka dan mempercepat penyembuhan.
Suranto (2007) menulis dalam bukunya bahwa madu embun (honeydew) adalah zat manis yang lengket seperti tetesan embun di atas daun dan kulit pohon yang diproduksi oleh beberapa jenis serangga yang menghisap cairan tumbuhan. Komposisinya mirip nektar tetapi lebih banyak mengandung mineral. Biasanya lebah madu mengumpulkan madu embun bila nektar yang ada sudah tidak lagi mencukupi (h.26).
Madu dalam berbagai budaya dikaitkan dengan kemanisan dalam segala hal dalam kehidupan. Madu dikenal oleh masyarakat dunia sejak dahulu, sejak waktu yang sangat lama. Salah satu bukti telah dikenalnya madu dalam kehidupan kuno adalah madu yang digunakan dalam pengawetan mayat pada zaman Mesir kuno dan ditemukan dalam papyrus Mesir kuno sekitar 1900-1250 sebelum masehi. Selain itu madu juga digunakan sebagai alat pembayaran masa Pharaoh Seti I, seratus cangkir madu setara dengan satu ekor keledai atau sapi. Kitab perjanjian lama juga telah mengindikasikan pada zaman awal masehi masyarakat di Timur Tengah telah pula mengenal madu, bahkan madu digunakan sebagai penggambaran kebahagiaan, kesenangan dan kenikmatan (33:3). Dikatakan pula bahwa tempat yang dijanjikan bagi orang yang beriman adalah tempat di mana di dalamnya mengalir sungai madu dan susu. Dalam tradisi Yahudi, perayaan tahun baru Rosh Hashana selalu dirayakan dengan potongan apel yang dicelupkan ke dalam madu lalu dimakan bersama-sama sebagai simbol pesta besar-besaran. Madu sebagai alat pembayaran. Selain dikenal di Mesir juga dikenal sejak lama pada zaman Kerajaan Romawi. Selain emas, madu juga digunakan sebagai alat pembayar pajak. Lain lagi di Yunani, pengantin perempuan diwajibkan mencelupkan jarinya dalam madu dan membuat tanda silang dengan jari tersebut sebelum memasuki rumah barunya sebagai lambang dan harapan akan terciptanya hubungan yang manis antara dirinya dan ibu mertuanya. Masyarakat penganut agama Budha di India dan Bangladesh juga mengenal madu sebagai barang yang dimuliakan. Sejarah perjalanan Sang Budha diwarnai oleh kebaikan seekor kera yang memberikan madu saat Sang Budha berada dalam pengembaraan bersama murid-muridnya di hutan belantara. Sebagai penghargaan mengenang kebaikan si kera, umat Budha mempersembahkan madu kepada para biksunya pada peringatan Modhu Purnima. Madu yang diberikan oleh kera selalu dilukiskan dalam cerita perjalanan Budha yang dipahatkan dalam lukisan atau candi Budha (Puspitasari 2007, h.2).

Madu mempunyai berbagai khasiat untuk kesehatan manusia, antara lain tercantum dalam Kitab Suci Weda yang kurang lebih menyatakan: "Hidup manusia akan diperpanjang dan diawetkan jika dalam makanannya sehari-hari selalu ada madu�..," (Noertjahyo, 2008).
Dalam agama Islam sebagaimana tercantum dalam surat An-nahl ayat 68-69, madu dikenal sebagai sebuah pelajaran bagi manusia yang mau berpikir, yaitu kisah penciptaan lebah dan madu. Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, �Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.� Kemudian, makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan, dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu, keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang yang memikirkan.� (Al-quran, h.412). Penggambaran surga yang penuh kenikmatan dan diilustrasikan dengan sungai yang mengalirkan madu di dalamnya tercantum dalam Al-quran surat Muhammad ayat ke-15. Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa di mana di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai anggur yang tidak memabukkan yang lezat rasanya bagi peminumnya serta sungai-sungai madu yang murni. Selain itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. sangat menyukai madu. Masyarakat dunia dari berbagai latar budaya dan agama telah mengenal madu sebagai komoditas yang bernilai tinggi. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila hingga sekarang ini madu tetap menjadi idola bagi sebagian masyarakat dunia (Puspitasari 2007, h.5).
Madu juga merupakan sumber komoditi yang banyak diperlukan bagi industri farmasi, kosmetik, dan makanan. Madu diyakini secara rasional merupakan sumber daya energi bagi tubuh (100 fr madu = 328 kalori). Di Indonesia kebutuhan konsumsi dan industri kosmetik serta farmasi mencapai 10.000 hingga 15.000 ton. Industri kosmetika (yang khusus memproduksi kosmetik) yang mengandung produk-produk lebah madu, sejak lama dijumpai di Italia, Perancis, Jerman dan sebagainya (bi.go.id, 2008).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar